Bus 20 Penumpang Terjun ke Jurang

By On November 22, 2017



SAMARINDA. Puluhan penumpang bus jurusan Samarinda-Sanggata tiba-tiba berteriak histeris. Bus melaju kencang dan keluar dari jalur semestinya. Bus sarat penumpang ini meluncur ke jurang. Peristiwa ini terjadi tepat di tanjakan lapangan golf, km 21, jalur poros Samarinda-Bontang, Kelurahan Lempake, Samarinda Utara, pukul 10.30 Wita kemarin (20/11). 

Bus dengan nama PO Suma Karya ini terperosok ke jurang sedalam 3 meter dari bibir jalan. Kejadian ini menelan korban jiwa. Sopir bus tewas akibat kecelakaan tersebut. Sementara 20 penumpang selamat, meski tampak begitu sangat syok. Para penumpang tak percaya dengan apa yang baru saja mereka alami. 

Sopir bus bernama Abdul Sani (46) warga Loa Duri, Kukar. Namun belangan, Sani sudah menetap di Jalan Hasanuddin, Gang Langgar, Samarinda Seberang. Tiga puluh menit setelah bus yang dikemudikannya meninggalkan Terminal Lempake di Jalan DI Pandjaitan, Sani diduga mengalami serangan jantung di perjalan. Serangan secara tiba-tiba itu membuat bus kehilangan kendali dan masuk jurang. 

Dari informasi yang dihimpun Sapos, bus bernomor polisi KT 9103 BA ini meninggakan Terminal Lempake menuju Sangatta, Kutim sekitar pukul 10.00 Wita. 
Saat di km 21, kondisi jalan mulai menanjak dan berbelok ke kanan. Penumpang merasakan bus terasa berjalan lebih lambat. Nah, saat melewati tanjakan, dan akan menikung kanan, bus justru mengarah lurus hingga terperosok ke jurang.

Darice (34), salah satu penumpang yang duduk tepat belakang sopir, sempat melihat Sani memegang dada seperti merasakan sakit. "Semenjak berangkat dari terminal wajahnya (Sani, Red) pucat. Saat dalam perjalanan dan ditanjakan gunung, bus melambat. Tahu-tahunya bus jalan ke pinggir. Saya kira mau istirahat atau mau parkir karena ada penumpang yang ingin naik,” kata Darice.

Rupanya saat bus mengarah ke kiri jalan dan lepas pada jalurnya itu, Sani sudah merasakan sakit di dadanya. Kondisi setir kemudi yang tidak beraturan membuat bus mengarah ke sebuah tiang listrik di bahu kiri jalan.
Sani saat itu sudah tertunduk di setir kemudi. Beruntung ada keponakan sopir yang duduk di dekatnya. Lalu setir bus diarahkan sebelum menabrak tiang listrik.

Tiang listrik memang berhasil dihindari. Namun langsung terjun bebas ke jurang. Puluhan penumpang bus dibuat panik bukan kepalang. Seluruh penumpang berteriak. “Kami pikir bus akan terbalik. Saya saja tertindis penumpang di belakang. Semua penumpang terdorong dan tertumpuk ke depan,” ucap Parmi (51), penumpang lain dalam bus nahas itu.
Usai kejadian, seluruh penumpang yang mayoritas warga Sangatta ini langsung keluar dari bus dan berkumpul di tepi jalan. Beruntung, lokasi kejadian tidak jauh dari pemukiman warga. Sehingga seluruh penumpang masih bisa diberikan pertolongan dengan cepat.

Usai evakuasi, pihak PO Suma Karya tetap memberangkatkan penumpangnya menggunakan bus pengganti. Itu dilakukan setelah petugas kepolisian melakukan pemeriksaan dan menyatakan penumpang bisa melanjutkan perjalanan.
Namun karena masih syok dan takut kejadian yang sama menimpa bus pengganti, dua penumpang dan satu balita tidak melanjutkan perjalanan. Penumpang yang mengalami trauma berat itu memilih kembali ke Samarinda.

Petugas kepolisian dari Unit Lakalantas Polresta Samarinda yang tiba di lokasi kejadian, langsung melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP).
Kanit Lakalantas Polresta Samarinda, Iptu Heru Utomo mengatakan, hasil penyelidikan sementara tidak ditemukan adanya kerusakan mesin. Sejumlah saksi yang dimintai keterangan juga mengatakan bus dalam keadaan baik saat berangkat dari Terminal Lempake. Dan dari keterangan sejumlah saksi pula, polisi mengetahui jika kendaraan melaju pelan sebelum masuk jurang. Diduga kecelakaan terjadi akibat sopir terkena serangan jantung.

“Sebagian penumpang melihat sopir sudah tidak bernyawa. Jadi meninggalnya kemungkinan karena serangan jantung. Tidak bisa mengendalikan, tidak bergerak, dan lurus masuk kejurang,” kata Heru. 
Tiga saksi penumpang yang dimintai keterangan polisi, persis duduk di belakang sopir . Kecepatan bus sangat pelan sebelum masuk jurang. Hanya 20 km per jam. Sangat pelan sekali," ujarHeru.

Di sekitar lokasi kejadian, sejumlah warga memberikan peringatan kepada pengguna jalan lainnya agar berhati-hati dan mengurangi laju kendaraan. Meski begitu, lalu lintas tidak terjadi kemacetan panjang di sekitar lokasi kejadian. 
Sementara itu, setelah dinyatakan meninggal dunia, jasad Sani dibawa ke RSUD AW Sjahranie. Selang tak berapa lama, istri Sani bernama Anna datang dengan derai air mata begitu mengetahui sang suami sudah tak bernyawa.
Anna memang begitu terpukul mengetahui kabar suaminya yang “pergi” begitu mendadak. Baru pagi sebelumnya, dirinya sarapan pagi bersama dengan Sani. Namun 4 jam kemudian, Anna mendengar kabar, jika suaminya mengalami kecelakaan dan dinyatakan tewas.

Tak banyak yang disampaikan wanita 44 tahun ini kepada wartawan. Namun dirinya sangat kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarganya.
“Pagi tadi kami masih sempat sarapan. Kondisi suami saya masih baik-baik saja,” kata Anna.

Setelah proses visum yang dilakukan pihak rumah sakit, selanjutnya jasad Sani dibawa pulang pihak keluarga untuk segera dimakamkan. (kis/nha)

Source : samarinda.prokal

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »