Lengan Putus, Ayah Tewas Pulang dari Rumah Sakit, Penderita Kanker Disenggol Bus

By On November 22, 2017


SAMARINDA. Begitu perih dan hancur perasaan Yontri. Pemuda 23 tahun itu menyaksikan ayahnya, Yabun (67) mengalami penderitaan yang begitu hebat. Di depan matanya, mahasiswi semeseter III FISIP Unmul ini melihat pergelangan tangan kiri ayahnya terputus karena terlindas bus.

Yabun dan Yontri merupakan warga Malinau, Kalimantan Utara (Kaltara). Selama di Samarinda, keduanya tinggal di asrama mahasiswa Nunukan di Jalan KH Wahid Hasyim II, Sempaja, Samarinda Utara. 

Yontri di Samarinda karena statusnya sebagai mahasiswa. Sementara, Yabun juga harus berada di Samarinda untuk menjalani kemoterapi rutin karena mengidap kanker sejak beberapa tahun terakhir. 

Peristiwa kecelakaan itu terjadi siang kemarin (16/11) pukul 11.00 Wita di Jalan M Yamin, tepat di depan kampus Universitas Widyagama Mahakam. 

Beberapa saat usai kejadian, warga yang menyaksikan justru ramai berkumpul, bukan untuk menolong secepatnya. Beberapa di antaranya justru menjadikan Yabun bahan tontonan dengan merekam detik-detik peristiwa mengerikan itu melalui ponsel. 

Yontri yang bingung harus berbuat apa, hanya bisa mendekap ayah kandungnya dengan erat. Yontri pun menangis sejadi-jadinya. 

Tak berapa lama kemudian, Yabun akhirnya dibawa ke RSUD AW Sjahranie untuk mendapatkan pertolongan. Namun sayang, karena luka serius yang dideritanya dan begitu banyak mengeluarkan darah, Yabun akhirnya tewas. Yabun diperkirakan mengembuskan napas terakhir pukul 13.00 Wita. 

Yontri terlihat tertunduk lesu di salah satu ruang tunggu kamar jenazah RSUD AW Syahranie. Kepada Sapos, Yontri menceritakan, kejadian nahas yang menimpa ahanya. Peristiwa itu bermula saat dia menjemput ayahnya yang tengah menjalani perawatan di RSUD AW Sjahranie, sekitar pukul 10.45 Wita 

“Ayah saya sempat rawat inap beberapa hari di rumah sakit. Baru saja menjalani kemoterapi. Niatnya saya jemput lantaran ayah minta pulang,” kata Yontri. 

Meski dalam kondisi kurang sehat, Yontri terpaksa mengiyakan ajakan ayahnya untuk segera pulang. Dengan mengendarai motor Yamaha Mio hitam bernomor polisi KT 5623 ME, anak dan ayah ini menyusuri Jalan M Yamin menuju Asrama Nunukan, sekitar pukul 11.00 Wita. 

Saat dalam perjalanan, tak jauh dari kampus Widyagama kondisi jalan mulai menanjak. Yontri yang mengendarai motor dengan membonceng ayahnya melaju di lajur kanan dengan kecepatan sedang. Namun tanpa disangka sebuah bus dengan nopol KT 7828 KC datang dari belakang hendak menyalip dari samping kirinya. 

“Saya berkendara pelan karena ayah sedang sakit. Saat ditanjakan datang bus besar. Dan menyenggol motor saya,” imbuh Yontri. 

Akibat bersenggolan, laju motor Yontri oleng dan akhirnya keduanya terjatuh. Nahas, saat terjatuh posisi keduanya hampir masuk ke dalam kolong bus. Bus yang diduga tidak mengetahui jika ada pengendara yang terjatuh, tetap melanjutkan perjalanan. Bus itu baru berhenti setelah Yontri berteriak. 

“Saya langsung melompat sesaat setelah kami terjatuh. Tapi ayah yang tak sempat berdiri dan tangan kirinya terlindas ban belakang bus,” terang Yontri. 

Mirisnya, akibat terlindas roda bus besar itu, pergelangan tangan kiri Yabun seketika putus. Tak sampai di situ, lindasan ban itu juga membuat hampir seluruh bagian tangan kiri Yabun mengelupas. Dan terlihat tulang putih di dalamnya. Kontan saja, akibat luka sedemikian parah, darah segar mengucur membuat pria ini berlumuran darah. 

Yontri yang kaget mengetahui ayahnya terluka, langsung mengangkatnya ke atas trotoar. 
“Saya enggak tau lagi mau berbuat apa. Saya hanya bisa memeluk ayah saya yang merintih menahan sakit sambil memegangi tangannya,” terang Yontri. 

Beberapa menit setelah kejadian, barulah warga memberikan bantuan. Yabun pun dibawa ke rumah sakit terdekat. 

Sementara itu, mewakili pihak keluarga, penasihat Forum Keluarga Mahasiswa Dayak Agabag, Kaltim Diamon mengatakan, meskipun kejadian ini adalah musibah dan tidak disengaja, dirinya menuntut agar pihak bus bertanggung jawab atas tewasnya Yabun. 

”Jika dikenakan hukum adat akan sangat berat. Namun kami keluarga akan bersikap realistis. Kami juga yakin aparat kepolisian bisa menyelesaikan kasus ini,” kata Diamon. 

Selanjutnya, setelah menjalani proses visum, rencananya jenazah Yabun akan dibawa pihak keluaraga untuk dikebumikan di Malinau. Kasus kecelakaan tersebut kini ditangani Unit Laka Lantas Poresta Samarinda. (kis/nha) 

Source : samarinda.prokal

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »